Sejauh Yang Aku Tau, Kamu Itu…
Ini buat kamu. Aku pernah ngerasa kenal kamu. Ga yakin sekarang masih kenal apa ngga, tapi sejauh yang aku tau, kamu itu…
Kamu senang membantu. Dan kamu ga suka kalo orang ngelunjak. Kamu bakal males dan berbalik cuek.
Kamu memandang orang-orang sebagai manusia dewasa. Kamu menganggap mereka tau resiko dari semua perbuatan mereka.
Kadang, karena itu, kamu jadi ga peka. Kadang, orang-orang melakukan sesuatu hanya untuk tau seberapa dalam kamu peduli.
Kamu orang yang sangat rasional. Ga akan bisa diyakinkan tanpa alasan logis yang bisa kamu terima. Bagus, tapi ya itu… kadang jadi ga peka.
Kamu ga banyak bicara. Gak suka menuding kesalahan orang. Sampai suatu hari ketika toleransimu habis, kamu akan marah besar.
Kamu sangat sederhana. Kamu suka ketawa. Kamu ingin ketika menghabiskan waktu bareng-bareng, kita bisa mentertawakan hal-hal sederhana.
Kalo kamu ngasih atensi, sekecil apapun, aku selalu berusaha menghargai. Aku ga mau kamu bosan memberi atensi.
Kamu percaya sama aku dan ga masalah kalo ga bisa ketemu tiap hari. Asalkan sekalinya ketemu, aku akan kasih atensi penuh buat kamu.
Dan memang bagiku ga mungkin ga ngasih kamu atensi penuh. Masalahnya, itu kamu! Mana bisa aku sok ga merhatiin?
Kebodohan kecil dari aku: ga pernah disuruh nunggu, tapi merasa perlu nunggu kamu. Dapet apa kita kalo cuma nunggu?
Kadang kamu memperhatikan obrolan yang berlangsung. Kamu berusaha memberi reaksi meskipun ga signifikan.
Kalo reaksimu minim begitu, kupikir berarti kamu lagi berusaha gabung dalam obrolan. Aku selalu berusaha ngasih kamu kesempatan.
Kadang kamu memperhatikan obrolan yang berlangsung tapi hampa reaksi.
Kalo kamu hampa reaksi, kupikir kamu ga merasa perlu komentar meskipun punya opini juga. Setelah obrolan selesai baru aku tanya langsung ke kamu.
Ketika kamu nyaman dalam kelompok, aku orang paling bahagia. Karena sama kamu, aku ga perlu mikir mau ngobrolin apa. Kita ‘klik’ tanpa usaha.
Klik. Kayak perumpamaan yang pernah aku baca… “Seperti tutup botol dan jalur ulirnya. Klik.”
Kalo kamu bener-bener ga memperhatikan obrolan, tidur/sibuk dengan hal lain (most likely gitar), buatku berarti mood kamu jelek.
Kalo mood kamu lagi jelek, aku akan bertanya, simpel: “kenapa?” Simpel aja. Supaya ga memperkeruh keadaan kamu.
Kalo kamu ingin jelaskan, kamu akan jelaskan. Kamu akan cerita. Dan aku akan mendengarkan. Setelahnya aku berusaha ngasih pendapat objektif.
Kalo kamu bilang “ga apa-apa”, berarti emang belum/engga mau cerita.
Aku ga akan maksa kamu cerita. Takut tambah bete. Paling-paling aku kasih atensi kecil, kayak “laper ga?” supaya mood kamu membaik.
Nah, setelah mood kamu membaik, baru aku tanya lagi “tadi kenapa?”.
Kalo bukan big deal kamu akan tetep bilang ga apa-apa. Kalo big deal, biasanya kamu akan cerita.
Akhirnya kamu selalu mau cerita sama aku. Dan itu… astaga, kamu ga tau senengnya aku dipercaya mendengarkan.
Kalo mood kamu ga membaik setelah aku lama usaha, aku akan tanya baik-baik sambil senyum: “ada apa sih? Muka lo kusut banget loh.”
Karena setahu aku, kamu bisa leleh kalo dihadapi dengan manis & baik-baik.
Yang kamu ga tau, aku malah udah leleh duluan. Aku sendiri juga ga pernah engeh apa sebabnya. Yang pasti, aku leleh.
Oh ya. Aku suka kita ga pernah pake aku-kamu. Ini makanya aku ngetwit aku-kamu. Bodoamat cheesy. Bodoamat. Ini jarang biarpun sepihak.
Muka kamu kalo senyum, punya arti yang berbeda-beda. Sadar ga? ;)
Kalo kamu senyum dengan alis agak diangkat, sorot mata lurus ke aku dengan kelopak mata agak turun, aku merasa kamu bilang sayang tanpa bicara apa-apa.
Kalo kamu senyum geli terang-terangan ke aku, artinya ada yang lucu di sekitar kita. Kadang aku curiga, kamu berpikir aku konyol.
Kalo kamu senyum lebar, berarti kamu lagi hepi atau at least mood kamu lagi bagus. Nah, itu aku bahagia sekaliiiii :D
Kalo kamu senyum geli dan buang muka, berarti kamu baru menyadari terjadinya sebuah kejahilan tersembunyi.
Kalo kamu senyum miring dengan alis terangkat tinggi, artinya kamu lagi nyolot. Sengaja nyolot biar aku kesel. Snob! :p
Kalo kamu senyum miring dengan mata menyipit, itu senyum sinis. Kamu menganggap omongan/kelakuan aku bullshit.
Kamu benci repetisi. Tapi kamu sadar kan, kita ini repetisi?
Kamu ga suka debat pake teriak-teriak. Kalo mau ngomong, sekalipun jadi debat, keep it cool. Akan lebih berarti buat kamu.
Kalo kamu mandangin aku terus, berarti kamu lagi mengobservasi. Berusaha nebak ada apa dalam pikiranku.
Kalo kamu minta maaf meski sebenernya ga perlu, berarti kamu peduli. Maafin aku ya, sering bikin kamu minta maaf yang ga perlu.
Kamu masih ingat detail kecil yang udah sangat lama ga kita bahas. Itu… Sesuatu. Banget. Buat aku.
Kamu mengenal aku dengan tepat. Nyaris sempurna. Seandainya situasi kita mudah, kamu ga akan pernah aku lepas.
Iya ya, aku yang selalu lari. Aku yang selalu kabur. Maaf. Tapi aku lari karena kamu cuma berdiri. Berdiri diam jauh lebih capek dari lari.
Tapi setidaknya kamu punya dia. Kamu tetep bisa bahagia :)
Kalo kamu baca twit-twit ini, kamu perlu tau: ini semua ga ada maksud apa-apa. Baca dan lakukan apa yang kamu mau. Mau kesel pun boleh.
Dan aku ga mau nyari yang mirip sama kamu lagi. Yang setelah ini, harus bener-bener beda. Karena sejauh yang aku tau, kamu (harus) cuma ada satu.
(diambil dari serial tweet gue suatu malam, yang kemudian gue tidak rela hilangkan begitu saja. maka gue post juga disini, sebagai kesatuan. tidak bermaksud apapun, mohon maaf.)
View high resolution
This guy barely give me a space on my own pillow every day and night.
But I still love him somehow.
About Being Sick
I got sick the past 2 weeks. It sort of killed me. I didn’t really know what’s wrong, all I knew was I couldn’t sit, stand up, or bend my back without people’s help. And my temperature raised to the hotness of Mars.
The first week I still could drag my ass out to meet people and enter the classes. Those were painful days, I could hardly wake up and get along with the living. Everything I did was painful. I sit and I cried. I stand up and I cried. I cried a lot.
Until finally, on the next week, I totally died.
I couldn’t do anything except lying dead on my bed. I caught a very bad influenza as an addition to the sickness. I really felt useless since I needed help to do every basic thing.
And bitchslap me if with those two weeks I didn’t get the most valuable lessons in my life.
I now believe that in life, we gotta die sometimes. I haven’t been at home that long for like two years. I spent a lot of time together with my mother and grandmother. I let them take care of me again. I can tell who really cares and who doesn’t. I let myself became weak without having to worry about it. I let myself take a good long rest. I take time to stop breaking my mind and body, and I slept within a humanly hour.
I guess dying is necessary, if that makes the people around you feel more alive. And it is necessary if you’ve forgotten how good life actually is. It kinda reminds you what it feels like to be full of life.
Most importantly, you know who you really need and who you don’t.
I’m pretty much healed now, and I cannot be more grateful to be able to live my life again. But the lesson I got when I was dead, I’ll use them to do better.
Mengajari, Bukan Menggurui.
Kalo mau dirunut, sebenarnya mengajari dan menggurui itu punya arti yang sejenis. Sama-sama maknanya “memberikan pelajaran kepada seseorang”.
Hanya saja kalau kita mengucapkan kata menggurui, konotasinya akan jadi negatif kepada orang yang mendengar. Menggurui jadi berarti “menganggap diri lebih mampu daripada orang lain”.
Tujuan sesungguhnya dari mengajar adalah memberikan petunjuk kepada yang diajarkan (murid), supaya lebih mengerti. Sedangkan menggurui, karena konotasi negatif yang timbul dari kata tersebut, dengan sendirinya dipandang bertujuan menyombongkan atau meninggikan diri.
Kenapa mendadak gue tertarik dengan kedua kata tersebut?
Karena akhir-akhir ini gue sering sekali menyaksikan betapa besarnya keinginan orang untuk dimengerti, baik ditunjukkan secara implisit maupun eksplisit.
Nah, kalau dikembalikan kepada pengertian kata mengajar tadi, gue menyimpulkan bahwa untuk bisa dimengerti, kita harus mulai dengan mengajari. Mengajari orang lain tentang seperti apa diri kita sebenarnya, dengan memberikan petunjuk dan bimbingan. Hanya saja ini tidak mudah. Untuk bisa mengajar, kita setidaknya membutuhkan:
- Kesabaran
Ketika mengajar, kita harus mau mengulangi. Harus mau memberi petunjuk dan bimbingan yang sama, yang itu-itu lagi, berkali-kali.
- Kreatifitas
Harus mencari cara yang menyenangkan bagi orang yang kita ajari supaya bimbingan dan petunjuk kita lebih menempel pada ingatannya. Supaya ajaran itu benar-benar meresap.
- Observasi
Kita harus mengamati tingkah polah orang yang kita ajari. Bagaimana pola belajarnya? Bagaimana sifatnya? Bagaimana temperamennya? Apa yang ia sukai dan tidak sukai? Setelah kita tahu persis karakternya, kita jadi lebih mampu menarik perhatiannya. Tidak akan sulit mengajarinya.
- Pengetahuan
Pengetahuan tentang apa yang kita ajarkan. Apabila kita mau mengajarkan dia supaya mengerti seperti apa diri kita, kita harus lebih mengerti tentang diri kita sendiri. Kita harus menguasai diri sendiri, baru kita bisa mengajari orang lain. Akan sangat tidak lucu kalau kita mengajari orang tentang sesuatu yang tidak kita kuasai benar.
Kalau kita gagal dimengerti, artinya kita bukanlah pengajar yang baik. Kita belum bisa membuat orang yang kita ajar menjadi lebih memahami.
Pikiran ini membuat gue sadar tidak boleh menuntut orang untuk mengerti begitu saja. Bahkan sampai membuat gue mengevaluasi seberapa baikkah gue sebagai pengajar.
Karena, mengutip kata-kata salah satu guru favorit gue dulu, tidak ada murid yang gagal; yang ada hanya guru yang tidak berhasil.
Yep.
Barangkali selama ini gue salah dimengerti orang karena gue tidak becus mengajari.
Barangkali, selama ini gue salah dimengerti orang karena gue bukan mengajari, melainkan menggurui.
Itu adalah kesalahan yang bodoh dan fatal.
Dan tidak menutup kemungkinan, gue salah mengerti orang karena mereka tidak becus mengajari. Atau karena gue digurui, bukan diajari.
Well, semua ini cuma sekedar pikiran selintas aja sih. Cuma sebuah kemungkinan besar, ditemukan oleh murid yang belum bisa mengerti sekaligus juga guru yang tidak sepenuhnya berhasil.
Semoga gak ada yang sesat baca post ini,
dan semoga tidak ada yang digurui oleh tulisan ini.
…in-betweens
“Do or do not. There is no ‘try’.”
-Yoda
So many things happened in the past month. Some are good, some are bad and some others are pure fucks. I often find myself in a hell between doing or not doing. I only live to meet my responsibilities but other than that I have no other life.
Escaping is not a good choice. I have tried that one. When I feel like I can’t choose between choices I decided to forget it and run my fingers over some dipshit writings or cheesy violin sheet musics instead. Nothing feels different afterwards. I’ve become a lifeless robot who can only sound like a broken machine. So uninspired. So numb. Glad to know I’m not so stupid.
Others are busy, anyway. People in my inner circle are into lovey-dovey thingy. Some are picking up girls and some are trying to pretend their relationships are okay. And I just sit there staring, or giving advice they’re asking for.
Meh. I don’t understand love as well. I just tell them what I think and that definitely cannot be counted as a philosophy. I suggest people not to listen to me because I am the biggest loser in love but they listen anyway. Their loss.
Everybody’s wishing a great October. For me, it most likely is just gonna be like other months; slipping away before I’d even notice.
Nothing’s too special for me right now. I guess that’s why I cannot choose. That’s why I am in between things.
Everything’s as unattractive as other things.
I Don’t Understand
People know that I am a nocturnal. I sleep through the day. And yet they still expect me to show up for work in the morning.
A person knows that I am really bad at love. I always make difficult decisions to carry on with. And yet he still expect me to be easy and lovely.
I don’t understand. They know that no matter how hard I try to be satisfying, I might not show up someday. Just because that’s who I am like. Because I live in a quite different world.
Then why do they still believe that I’ll always show up? I will disappoint them at some point for just being who I am. Why is trust so easy for them to give away?
Why do I get to be trusted at things I shouldn’t be trusted for?
Learning from myself, I have decided not to trust anyone so easily for different aspects of habit and personality. I tend to completely distrust someone for one thing and another just by observing their habits and personality.
Back to my previous question with an addition,
why do I get to be trusted at things I shouldn’t be trusted for, and why do I have to trust people at things they shouldn’t be trusted either?
I need a logical answer. Not a touchy-feely one.